Padahal baru kemarin curat coret target sama pencapaian baru, evaluasi sambil teriak-teriak mimpi baru. Lagi senang nya merangkul, menikmati tiap rasanya terurai. Ngerangkak, jalan, lari. Kata Ibu waktu makin cepat, ngga kerasa ya De.
Padahal kayanya baru kemarin Bapak pelantikan pegawai.
Padahal baru kemarin asiknya berkembang, melulu tentang diri sendiri.
Padahal tanpa sadar Ibu sama Bapak makin menua.
Waktu cepat ya Bu?, Ade terlalu asik berlari.
Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.
Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.
Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.
Aku terbangun di lelahku, termenungkan semua rasa yang saling beradu.
Menyiksa, memaki lalu membenci, entah aku harus apa.
Pejamkan mata, begitu dekat terasa memeluk. Aku ber-angan di bawah pekik malam, hitamnya pekat dan sepi.
Rasakan dunia begitu fana, ada kalanya cinta bukan segalanya.
Lalu, kembali buka matamu.
Tarik nafasnya dalam-dalam, lalu sudikah nona untuk berjalan menembus persimpangan dan segala drama mu?.
Berlarilah.
Oleh : Seseorang yang gusar.Ber hati ber raga dan juganya ber jiwa,
Tertatih hingga mendiam letih
Sungguh di kala seperti ini,
Aku merebah diantara hampa
Hamba lagi di bawah cipta rembulan.
Persimpangan yang mengiris di tiap tanya
Mengkuliti mu dari kesaksian ‘nusia
Entah bagaimana dunia terlalu fana
Bahkan yang di agungkan bukan rahasia
Sedikit terngiang di malam hari
Terluntang-lantung menjadi-jadi
Bagaimana pula arti dari sebuah mimpi
Yang belum kau ingkari.
Mari,
Aku akan mencintai untuk ke sekian kali
“Open up your eyes
Breath easy
You and I can make our escape
And give the pain to yesterday
Feel a fresher light on your face”
Our housing project | 2015/2016
Aku rindu percakapan senja kita,
Permainan yang dulu membuatmu tersenyum
Mata tawa mu, serta cerita mu tentang antero dunia
Sendu yang membuat ku jatuh cinta
Keluhan yang membuat ku ingin memeluk
Lalu juga lirih yang meninggalkanmu
Kalau saja kita ditemukan waktu yang berbeda,
Antara aku dan angin sore
Aku ingin berhembus bersamamu
“Semua orang berhentilah berlaku baik, sayang bertutur manis merupa-rupa seribu berjejak siapa saja yang bertamu”
“Aku pikir manis sekali bertutur, sampai ternyata seperti samanya mereka”
“Menunjuk itu lebih mudah, seperti tak pernah sedikit berkaca. Kamu terlalu banyak menyandiwarakan”
“Dipikir hati mengikis, di temani sendu sore. Ternyata nona manis yang meringis, hatinya sama ber-iblis”
“Sedikit saja ‘nusia memohon, adakala diri hanya ingin bersandar ia yang apa ada nya”
“Sungguh yang kau sebut bahagia kini mati di ujung fajar, di selimuti awan abu mu. Kemudian entah kau yang fana sedikit saja jangan berdusta”